.
.
Showing posts with label Art. Show all posts
Showing posts with label Art. Show all posts

Cerpen : Cinta Laki-laki Biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

**1**

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima. Kenapa? Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.

**2**

Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

**3**


Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

**4**


Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

**5**

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

**6**


Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

==SELESAI==

Penulis : - "Asma Nadia" -
Source : nandana@panama-group.com

Siluet Ilusi : Kala Senyum Tak Selalu Terlukis Indah


Artikel yang berjudul "Kala Senyum Tak Selalu Terlukis Indah" ini persembahan Cak Shon anak bangsa yang melanglang buana berjuang di negeri Singa.

Aku termenung, saat aku perhatikan wajahku sendiri di cermin itu. Oh Tuhan wajah ku sudah mulai berkeriput. Kulihat kerutan-kerutan di wajahku semakin nyata. Gurat-gurat pertanda jumlah usia itu semakin tak dapat menyembunyikan sebuah kenyataan bahwa aku sudah tua. Ya, saya memang sudah tidak muda lagi.

Rasanya baru kemaren pagi, saya berada di sebuah podium di aula pesantren menyampaikan pidato perpisahan di hadapan para kyai, ustadz, teman-teman, dan di hadapan seseorang yang sangat spesial dalam hati saya. Bangga rasanya, aku dipilih untuk mewakili teman-teman sebagai lulusan terbaik saat itu menyampaikan kata-kata terakhir untuk orang-orang yang aku cintai yang akan kami tinggalkan untuk jangka waktu yang lama, bahkan mungkin untuk selamanya.  Sungguh, akhir lembaran kisah cerita masa SMA di Pesantren yang sangat indah yang ku tutup dengan kado istimewa aku diterima di Jurusan impianku, di kampus teknik idamanku di kota Surabaya.

Rasanya baru kemaren siang  aku menerima map bersampul batik, jabatan tangan dan ucapan selamat dari rektor ITS, yang sekarang adalah menteri pendidikan Nasional. Map batik itu adalah tanda kebanggan dari wisudawan ITS yang berhasil lulus dengan pujian, cum laude. Dan aku menjadi satu-satunya wisudawan dari Jurusanku yang menerima map batik coklat itu. Bahagia sekali rasanya, melihat kedua orang tua tersenyum bangga dengan itu. Akhirnya, kutulis lembaran terakhirku dari perjalanan penuh keringat dan airmata selama 4 tahun di kampus perjuangan di kota pahlawan itu dengan diterimanya diriku sebagai Research and Development engineer di  sebuah perusahaan asing dari Korea Selatan yang membuat ku harus hijrah ke Ibu kota Jakarta, kota impian banyak orang yang memimpikan kesuksesan hidup.

Rasanya baru kemaren sore aku mengambil keputusan besar itu dalam hidupku. Keputusan yang merubah total arah kehidupan ku selanjutnya. Aku yang memutuskan menjadi dosen di almamaterku. Profesi yang sebelumnya sangat tidak saya sukai dan tidak pernah terpikirkan dalam benak ku. Padahal, dengan bekal gelar S2 ku dari kampus negara tetangga telah menghantarkan ku di gerbang perusahaan minyak nasional setelah bersaing dengan ratusan ribu pelamar lainya. Aku telah memilih menjadi pendidik dengan gaji yang kecil. Tetapi, saat itu aku telah berjanji tidak akan pernah menyesali keputusan ku sendiri di kemudian hari.

Dan dunia pun terus berputar, waktu pun terus pergi berlalu,  tak pernah menunggu siapa pun, hidup terus berlanjut menurut sabda sang alam, dan aku kini sedang terpuruk dalam kesedihan di antara persimpangan waktu yang terus berdenyut. Hidup telah mengajarkan banyak hal kepada ku. Bahwa ternyata hidup itu tidak indah-indah amat seperti yang aku bayangkan di masa remaja ku dahulu. Hidup ternyata tidak selalu diisi dengan kebahagiaan dan cinta. Ada kekecewaan, kegetiran, kepahitan dan kebencian di dalamnya.

Tuhan, diam-diam aku telah merindukan diriku di masa lalu. Aku yang selalu di kelilingi ribuan mimpi dan asa yang selalu membangkitkan gairah hidup. Yang membuat hidup ku menjadi lebih hidup dan teras begitu indah.

    Seribu asa hadir di sekililingku
    Bangkitkan gairah hidup
    Sejuta harapan di dalam jiwaku
    Walau semua masih di dalam angan

Rasanya kini semua itu hanya siluet ilusi. Yang seolah dekat tapi tak pernah bisa aku tangkap dan aku kejar. Maafkan aku Tuhan, jika aku mengeluh. Tuhan maafkan, Jiwaku yang  lelah, yang telah terpuruk dalam lorong gelisah, dalam luka beradah yang teramat parah. Aku yang rapuh dalam melangkah. Bak kehilangan arah dalam kesendirian di malam yang kelam dan tak tau kemana hati ini harus berlabuh.

    Keraguan kini menjelma di dada

    Musnahkan segala asa
    Semua harapan yang dulu pernah ada
    Tiada tersisa…
Tuhan, maafkan lah aku atas segala kecurangan hati ini. Maafkan aku yang telah menduakan Mu. Wahai Tuhan penguasa hati ini. Hanya Engkaulah yang mampu menghapus segala duka ini. Basuhlah rindu dendam hati ini dengan cinta Mu. Wahai Tuhan Penguasa siang dan malam, lipurlah segala lara dalam dada ini. Karena aku yakin Engkau selalu memiliki cara sendiri untuk menghibur hati hamba Mu. Tuntun dan bimbinglah langkah kaki ini selalu.

Sajak Nelayan Tua

Nelayan tua itu
mengeja hari mengusap wajah
membisik kalimat lirih
maaf pada seluruh sanak

Dia kenang karang garang
mengunggu waktu tenggang
berjalan langkah terseok
duduk diam meredam kaki kecil
tangan tak lagi menebar jala

Hangat mentari
hangat air sepanjang pesisir

Nyiur nyiur memanggil
meneduhkan mata cekung menghitam

Pulanglah pulang, suara desir angin
meraup ikan, menggulung ombak adalah sakit yang mengiris

Pulanglah Pulang, suara riak ombak
menyimpan sepinggan duka mengering adalah isak tangis

Pulanglah pulang, suara langkah kaki berpasir
memejam mata tertidur panjang adalah mimpii yang menipis

dan pulang adalah jalan 

Sajak Nelayan Tua

Puisi Hanya Keinginan

Akulah manusia dengan sebuah keinginan
mencari diantara awan dan rembulan
bersenandung diantara angin dan hujan

Seperti keinginan debu tersaput jatuh
dengan tetesan embun
menaburkan jala-jala cinta di setiap paginya
berganti rupa cahaya
bertaburkan warna warni pelangi

Hanya sebuah keinginan menggapai harapan di ujung horison
yang terlihat jingga membias di istana maya
tampak memancarkan rona binar asa memancarkan indahnya
seakan menggambarkan rupa elok sebuah angan

Dari sudut fragmen kehidupan secuil jiwa
aku hanyalah manusia yang mempunyai banyk keinginan
akulah manusia dengan jiwa rapuhnya
memiliki sebuah angan-angan
yang tersimpan di ujung harapan
dan aku menginginkan banyak keindahan
mewarnai langkah langkah hariku

Hanya sejumput cahaya
yang ingin kupetik
dan kuletakan dijelaga jiwaku
agar aku tak salah melangkah
dalam pencarian keinginan keinginan mimpi jiwaku

"Puisi Hanya Keinginan"
-By: Ana Rosliana-

Sajak Menunggu Senja

Jangan Menunggu Sampai Senja Tiba
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya: Jika kamu bersyukur, maka pasti Aku akan tambahkan nikmat bagimu; tapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya hukuman-Ku amat berat.” (Ibrahim: 7)

Dalam kitan ini Nabi Muhamad saw, pernah mendengar seorang laki-laki memeuji Allah dalam do’anya: “Al-hamdu lillahi bil Islam.” (Segala puji bagi Allah atas karunia Islam)
Maka nabi berkata kepadanya: “Innaka latahmadullaha ala ni’mati adzim” (Sesungguhnya kamu telah memuji Tuhanmu atas nikmat yang amat besar). 


"Selamat Datang Para Pemenang"

Kita Lahir Kedunia Ini, Karena Kita Sebagai Pemenang, Tahukah Anda? Berapa Ribu Sel Sperma Yang Telah Anda Kalahkan Saat Perebutan Untuk Pembuahan Pada Rahim Ibu Kita.

"Kita Adalah Pemenang Sejati"

Saat Itu Bahkan Tidak Ada Juara Kedua, Apalagi Juara Harapan. Disadari Atau Tidak, Kita Adalah Pemenang Tercepat Pertama Antara Ribuan Bahkan Jutaan Sel Sperma Yang Menjadi Cikal Bakal Manusia Itu Lahir Ke Dunia. Pemenang Sejati Itu Adalah Anda Dan Saya Tentunya.



Apakah hari ini anda bahagia? Ya, janganlah sekali-kali menyesali hari kemarin dan jangn takut menghadapi hari esok. Karena hidup adalah hari ini, kemarin adalah masa lalu, dan esok masih misteri. Nikmatilah hari ini dan sembahlah Tuhanmu sampai ajal datang menjemput. Kuatkan tekadmu dan katakan: “Aku hanya akan hidup hari ini. Jadi, apa yang mesti kulakukan? Ya, aku akan menggunakan setiap waktu berlalu dengan kebaikan-kebaikan. Bahkan setiap detik akan kugunakan untuk bekrja, untuk memeberi, untuk tersenyum, untuk berkarya, untuk berdo’a, untuk beribadah”. 
Biarkan kesedihan keluar dari jendela, lalu tutup rapat-rapat dan katakan: “Aku tak punya waktu untuk bersedih, untuk mengeluh dan untuk tidak bersyukur" Cukuplah bagiku jadi hamba dari Tuhan yang maha kaya, jadi abdi dari Tuhan yang maha Raja diraja. Yang maha hidup kekal, yang maha mengurus terus menerus segenap mahluk-Nya.

Katakanlah: “Aku masih punya air yang segar, punya teman-teman, punya tangan untuk berusaha, punya mata, punya kaki dan punya hati untuk bersyukur." Dan peganglah senantiasa perinsip “Aku hanya akan hidup hari ini” Dan katakanlah seperti kata seorang penyair: 

"Air, sepotong roti dan tempat berteduh

Itulah karunia terbesar tak terkatakan

Kafirlah aku terhadap nikmat Tuhan
Jika sampai kukatakan aku kekurangan"


“Jawaban untuk pertanyaan ‘kapan untuk bertindak, berusaha, berubah?’ adalah sekarang.” 
Jangan Menunggu Sampai Senja Tiba
Oleh: kakah ei


Demikian semoga bermanfaat, amin.
sumber : al-qurqn, buku-buku hadits dan buku da'al-huzn wabda' al-hayat



Cerpen Autobiografi Mutiara Alam


Judul   : Cerpen Autobiografi Mutiara Alam
Genre : Cerpen sederhana, Cerpen Insfiratif, Cerpen Biografi

Pesonanya seolah menyiratkan keagungan, dan kebesaran penciptanya. Ia tidak hanya dikenal dengan pesonanya yang memikat, tapi kebaikan hati dan ketulusan jiwanya yang nyaris sempurna.    

Perangainya tidaklah lantas tinggi hati dan sombong seperti kebanyakan wanita waktu itu. Karena itulah mengapa kemudian namanya dikenal dengan baik di lingkungan pesaanteran Al-Ikhya, Cibadak. yang di pimpin dengan khudu kiai Amru Mu’min seorang ulama terpandang yang tak lain adalah kakenya sendiri. Kiai Amru yang akrab dengan panggilan Abah ini merupakan kiai yang cerdas dan rendah hati. Dikenal sebagai ulama yang pakar dalam takhrij hadits. Maka kitab-kitab yang beliau bahas dan beliau uraikan kepada para santrinya di Pesantren Al-Ikhya adalah kitab-kitab hadis dan ilmu hadis seperti Kutubus Sittah.



***

Barisan menara putih nan menjulang tinggi menjadi simbol kemegahan masjid pesantren yang bertengger dengan gagahnya. Masjid dan pesantern tersebut diberi nama Al-Ikhya secara langsung oleh pendiri pesantren besar itu yang tak lain adalah kakek kiai Amru sendiri. 

Sentuhan arsitek ulung dan seniman kelas tinggi yang juga berpadu dengan kokohnya banguna tersebut, nyaris tidak ada yang bisa membedakan antara bangunan istana kerajaan dan bangunan istana Al-Ikhya.            

Ribuan santri yang hilir mudik menjadi pelengkap kesempurnaan pesona Al-Ikhya.

Istana al-Ikhya tak ubahnya maha karya seni kelas tinggi, berpadu dengan kekuatan konstruksi yang tak tertandingi. Maklum, karena pemimpin pesantren dikenal memiliki citarasa seni yang sangat tinggi.

Wajar saja jika keidahan bangunan ini nyaris sempurna, kokoh bak mencakar langit. Tak hanya itu, norma agama dan nilai budaya juga dibangun dan ditegakan dengan sangat kokoh oleh sang Abah. seorang kiai yang penuh karismatik dan wibawa ini dikenal dengan baik di kalangan orang penting dan pejabat pemerintah.          



***

Keindahan dan kemegahan istana Al-Ikhya bukanlah memancar dari bentuk bangaunan yang menkjubkan, berikut nilai estetik yang menyertainya. Kemegahan itu melainkan terpancar dari sosok manusia yang secara khusus di ciptakan Tuhan nyaris sempurna. Seakan-akan Dia (Allah) ingin menunjukan keindahan ciptaannya yang hampir tiada tara. Wajahnya yang khas dan berkarakter kuat dengan kelembutan budi dan pekerti. Kecantikan dan pesonanya begitu alami. Kecerdasan berfikirnya yang mampu menjangkau langit Nusantara. Seolah menyiratkan makna, bahwa Allah menciptakan maha daya kreasinya pada sosok kaum Hawa yang kemudian diberi nama almarhum ayahnya dengan nama Azzwa Annisa ini nyaris sempurna. Dia yang akrab di panggil Azwa, tak lain adalah cucu satu-satunya dari kiai Amru. yang diusia keranumannya, dua puluh tahunan.             

Kulitnya putih merah merona. Uratnya bergaris gemaris biru muda di permukaan kulit lembutnya. Postur tubuhnya tinggi semampai menambah keelokan anggah-ungguhnya yang memikat.

Azzwa Annisa bak mutiara yang tersimpan rapi dalam peti. Terkunci rapat bak harta karun yang berharga di abad milenium.      

Tak seorang pun pria bukan mahramnya, yang bisa melihat dan menikmati keindahan pesonanya. Meskipun begitu nama Azzwa Annisa, menjadi buah bibir warga yang tak sempat menikmati keindahan pekerti dan perangainya. 

Meski ia tak bercadar seperti halnya perempuan negeri seribu satu malam, tapi pengagumnya begitu menjamur. Mereka hanya menerka kecantikan budi dan perangainya lewat cerita dari mulut ke mulut saja. Azwa yang kini tengah menggali ilmu di Islamabad of university, Pakistan.

Dari kabar yang bredar kini ia tengah pulang ke tanah air setelah menyelesaikan Akselerasi program sarjana program studi ‘Akhwal Alsyahsiah’¹. Kedatangannya senantiasa akan dinantikan banyak orang. Termasuk para Ustad muda yang menaruh hati padanya, yang kini khusuk mendalami ilmu agama dari Abahnya.      



***

Seseungguhnya tidak sedikit orang yang menyayangkan, kenapa bunga itu selalu di simpan rapi-rapi dalam kemasnya. Kenapa tidak di biarkan wanginya tercium banyak orang.

Semua orang boleh saja menyayangkan, tapi aturan syari’at tetap harus di tegakan dengan kuat begitu kata sang Abah selalu mengingatkannya, selalu di bisikan padanya agar senantiasa mentasbihkan nama Tuhannya kapan dan dimana ia berada. Pagi itu adalah pagi pertamanya ia membuka mata dengan nuansa yang berbeda, atmosfer alam sekitar Cibadak ia rasakan begitu remaja. Lantunan azan subuh sebentar lagi akan berkumandang. Irama alam ini yang selalu menyadarkannya dari lamunan fajar yang merekah kemerahan di langit timur. 



Sejak kecil Abahnya selalu mengajaknya untuk senantiasa akrab dengan pesona langit subuh hari. Bisikan tasbih selalu membasuh hatinya. Mentausyahnya untuk merenungi dan mentafakuri segala bentuk ciptaan Allah Ta’alla berupa kenikmatan bersujud simpuh bersua dengan_Nya. 

Keindahan itu masih sangat jelas tergambar di benaknya. Keindahan yang selalu mengalirkan rasa takjub pada Dzat yang menciptakannya.


***


Azwa berdiri di depan jendela kamarnya yang ia buka lebar-lebar. Ia memandangi langit. Menikmati fajar. Dan menghayati tasbih alam Cibadak pagi itu. Dengan dibalut mukena putihnya ia menikmati keindahan alam dari jendela kamarnya. Ia hirup dalam-dalam aromanya yang khas. Aroma yang sama dengan aroma yang ia rasakan saat ia kecil dulu. Tak ada yang berubah. Terhampar tenunan sutera alam pesawahan kian memanjang. Tenunan sutra alam bermotif bunga-bunga beraneka warna. Tenunan itu kian indah dengan tetesan embun yang disibak matahari yang baru membuka matanya. Atmosfer alam seperti ini sudah ia rindukan sejak lama. Hamparan padi yang menguning indah, pagi itu seumpama serafan keindahan taman surga yang dipindahkan Allah dari langit ketujuh, untuk menyambutnya.

Azwa tengah khusuk tenggelam dalam menekuri dan mentafakuri tasbih alam yang melenakan hatinya. Hati kecilnya seraya Ta’dzim bertanya, siapa yang mempu menciptakan keindahan seperti ini?

Tapi tak segera menemuka jawaban yang mampu melegakan hatinya, selain sujud simpuh penuh syukur pada Rabb seru sekalian alam. Lewat perintah penciptanya, pagi itu alam begitu menjamunya. Dengan jamuan dan perlakuan yang sempurna. Pagi itu juga Azwa merasa kepedihan hatinya selama ini sudah terobati. Jiwa yang gulana telah menemukan penawarnya. Rasa penat, lelah dan lumlay telah tersingkir jauh entah kemana. Sebab saat itu pesona yang begitu menakjubkan, ia peras dari keagungan dan kebesaran_Nya. 



***

Sejenak kita tinggalkan pesona alam yang dirasakan Azwa dengan segala keindahannya. Kita tengok jauh di belahan bumi lain Daus sedang sibuk mengemasi barang-barangnya, Karena tengah hari nanti ia harus segera ke bandara dan meluncur ke Jakarta. Tiket pesawat tak lupa ia siapkan. 

Seorang pemuda yang memiliki nama panjang Muhamad Firdaus ini akrab di panggil Daus oleh teman-temannya. Daus merupakan pemuda yang ulet, pekerja keras dan rendah hati. Dengan bermodal pendidikan D3 bidang Bisnis dan Menejmen, dengan skill dan keuletannya ia pernah menjadi asisten manajer di perusahaan yang bergerak di bidang eksport-import di Jakarta. 

Daus yang kini genap berusia 24 tahun, tengah berbahagia dengan merampungkan beasiswa pendidikan Strata 1 (S1) bidang Ekonomi Syari’ah di Tajmahal Of University, India. Kini ia bermaksud tengah melakukan tugas penelitian terakhirnya yang akan ia lakukan di tanah air. Kecerdasan qalbiah dan Spiritualnya (intelektual dan agama) merupakan anugrah yang Allah titipkan lebih padanya. Kecerdasannya bak serapan kecerdasan Nabi Muhamad saw yang pernah di bedah Qalbunya sebanyak empat kali oleh Malaikat Jibril. Yang kemudian di bersihkan dengan air Zam-Zam.



Ketampanannya seolah-olah titisan kanjeng Nabi Yusuf As, yang di turunkan Allah padanya. Seumpama rembulan diantara bintang gemintang. Kesabarannya bagaikan percikan kesabaran yang Allah berikan pada Nabi Ya’kub As. Tapi jangan tanya Daus tentang cinta, akal sehatnya dangkal untuk menerangkan cinta. Lisannya kelu. Imajinya kosong. Maklum, sejak kecil ia belum pernah berpacaran. Dari kecil hanya sebagian orang saja dari teman-teman karibnya yang perempuan, itupun tidak pernah ia menaruh harapan.

Demi Allah aku adalah laki-laki normal, begitu pengakuannya ketika di tanya salah seorang teman kerjanya. Ia tidak mau susah-susah mencari-cari cinta, karena cinta itu sebetulnya sudah ada. Sudah di gariskan oleh tangan Tuhan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan berpasang-pasangan. 

Dia tidak mau mengharap pada cinta yang tidak pasti. Ataukah sesungguhnya belum ia temukan gari-garis kecantikan yang ia idamkan pada sosok wanita yang munggkin bias menjerat hatinya. Tanpa ia tahu kalau sesungguhnya ia telah di jodohkan ibunya sejak lama. Bahkan mungkin sejak ia masih kanak-kanak. 

Tatkala cinta pilihannya datang dan dilaluinya, suara imannya masiih akan tetap berbicara. Antara dua cinta yang dicari bukanlah segalanya. Hatinya terkesima pada cinta Allah dan Rasul yang menerangkan cinta dan percintaan.




***

Tak terasa lamanya kini Daus tengah bersukacita dengan sanak saudaranya, mengobati rasa kangen pada keluaga tambatan hatinya. Merebahkan penat. Menikmati alam desa Muara yang memukau menghangatkan jiwa. Sang Ibu kembali mengingatkan. “Jang², kalo Ambu³ perhatikan, umurmu sudah terbilang tua. Apa henteu kapikiran¹¹ untuk menikah?” begitu kata Sang Ibu. 



2. Panggilan bahasa Sunda untuk anak laki-laki kesayangan

3. Ambu: Ibu

11. Tidak terpikir

Dengan panjang lebar sang Ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan Daus telah dijodohkan dengan seseorang yang tak pernah dikenalnya.” 

“Ibu pernah mengikat janji, dengan teman karib ibu waktu di pesantern dulu, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu, Jang.” ucap sang ibu dengan nada mengiba. Daus tunduk dan bisu, dia tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan airmata Sang Ibu yang dihormatinya. 

Rasanya ia tak dapat menampik hatinya, kalo ia telah memiliki tambatan dan kriteria calon pendamping hidupnya. Melihat gelagat anaknya seperti itu Sang Ibu mengerti. 

“Apa kamu sudah punya tambatn hati anakku.?” Dengan runtut Daus menceritakan tentang gadis pualam yang telah mencuri hatinya, sewaktu ia menghadiri pertemuan mahasiswa Indonesia berprestasi di Turkey. Yang konon katanya dia menjadi rebutan semua mahasiswa Indonesia disana. Matanya terperanjat ketika saat itu sang gadis melempar pandangan kepadanya. 

Tak ayal pertemuan paandangan itu tak dapat di bantah lagi, dan terjadi begitu saja. Daus tak ubahnya tertikam belati tajam tepat menghujam jantungnya, usai melihatnya. Ada getaran-getaran aneh disitu, yang dia pun tak tahu itu perasaan apa. Ada misteri yang tak dapat di sibak mantranya. Mungkin ini adalah rahasiah hati, rahasia jiwa, dan rahasiah cinta. Tapi ai tak mampu menguraikan hal itu. 

Beberapa hari setelah kejadian itu, Daus merasa ada penyakit aneh yang bersemayam dalam dirinya. Penyakit yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Derita dan kegelisahan yang dialaminya semakin lama semakin merusak jiwanya. Langkannya menjadi gontai. Jiwanya rapuh. Dan imajinya melayang-layang mencari-cari siapakah gerangan yang memiliki mata sebegitu indah itu. Gerangan ranting dari pohon manakah ia berasal? Gerangan dari semak manakah mawar itu merekah? Ia tidak mengenalnya sama sekali. Tapi getaran yang Daus rasakan ternyata mampu menembus batas lahiriah fisik tambatan hatiya. 

Kini Daus lantas mencari-cari bagaimana menyempurnakan petunjuk jiwanya itu. Bagaimana ia tidak gelisah kalo tambatan hatinya belum ia temukan. Bagaimana jiwanya tidak goncang jika ia belum sepenuhnya bisa memilikinya dengan ikatan yang halal. 

Itulah sebabnya Daus masih ragu dengan pertanyaan sang ibu yang baru saja didengarnya.



Dalam pergulatan jiwa yang sulit dikalahkan, akhirnya Daus pasrah. dia menuruti keinginan Sang Ibu. Dia tak mau mengecewakan Sang Ibu yang dicintainya. Daus ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu dia harus mengorbankan dirinya. Dengan hati pahit ia pasrahkan semuanya bulat-bulat pada Sang Ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatinya timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya apa. Jauh dalam lubuk hatinya Daus ingin memberontak pada Sang Ibu, tetapi wajah teduhnya selalu saja meluluhkan hatinya.



***

Kita tinggalkan Daus dengan perasaan gamang, bingung tak berkesudahan. Kita tengok kembali Azwa yang tengah khusuk membaca La Tahzannya Dr. Aidh Al-Qarni. 

"Neng, Ummi ingin bicara sebentar denganmu bisa?" Kata Ummi nya, dengan wajah serius.

"iya, bisa Ummi." Jawabnya sambil menghadapkan seluruh wajahnya pada Sang Ummi yang di cintainya.

"Begini, Neng, Ummi rasa kamu harus segera menikah. Kamu harus segera memutuskan siapa yang kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Jika Ummi perhatikan, sudah beberapa kali engkau menolak lamaran yang datang. Dan Ummi rasa lamaran itu datangnya tidak dari orang sembarangan. Ummi ingin menyampaikan sesuatu padamu, Neng.

Dengan runtut Sang Ummi bercerita panjang lebar, Azwa terdium sesaat. Mendengar cerita Sang Ummi yang begitu serius. Membuat imajinya buyar. Fikirnya kosong. Penjelasan dari Sang Ummi bak petir di siang hari. Mesti tidak ada kobaran api, hatinya seolah hangus terbakar. Sayatan demi sayatan tajam menghantam jiwanya, meski tak ada bilah pisau disana. Kini ia tengah dirundung nestapa yang sangat dalam. Jauh dalam hatinya ingin berontak pada Sang Ummi. Tapi rasa hormat dan ketaatannya pada Sang Ummi masih bisa mengatasi semuanya. 

“Maaf, sekiranya hal ini membuatmu sedih dan terpukul, Neng.” Lanjut Sang Ummi dengan nada memaaf. 

Azwa diam saja. Tubuhnya mematung. Bibirnya terkunci rapat.

Melihat kebingungan Azwa Umminya malah bertanya,

"Jujur sama Ummi, Neng, adakah seseorang yang sebenarnya kau damba. Dalam bahasa anak mudanya kau naksir padanya?"

Ia menggelengkan kepala.
"Tapi pernahkan kau bertemu dengan seorang pemuda yang sangat berkesan di hatimu?" Lanjut Sang Ummi.
Sesaat jiwanya melayang-layang mengingat-ingat sosok yang mungkin saja telah mencuri hatinya. Tapi tak segera menemukan jawabannya. Ia tetap menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba ia teringat pada sosok manusia kecil yang pernah mengindahkan masa lalunya .
Kehadiran manusia kecil yang menurut banyak temannya sangatlah tampan dan baik hati. Bak malaikat yang menjelma menjadi anak manusia. Yang ketanpanannya seumpama rembulan diantara bintang-gemintang. Sorot matanya lebih tajam dari matahari. Semua mata yang memandangnya niscaya terpana. Semua yang berpapasan dengannya niscaya terkesima. Mata indah yang dengannya dia bisa melihat keindahan cinta yang memabukan.
Kesejukan budinya, ia rasakan bak angin surga yang menyibak peluh jiwanya. Bak perasan anggur surgawi yang menyegarkan dahaganya.



Beribu pertanyaan bertebaran dalam benaknya. Dimanakah gerangan malaikat kecil itu berada saat ini ? Aliran sungai manakah yang menyeretnya, pergi? Kenapa angin malam tidak juga mengabarkan berita tentang malaikat kecil itu padanya?

Ah..andai saja dia tau dimana malaikat kecil itu berada saat ini, niscaya dia akan segera terbang menghampirinya. Dan mengajaknya terbang mengarungi bahtera kehidupan yang terbentang luas di hadapannya.



“Ummi ingin kasih tau sesuatu, Neng. Tadi malam ada seorang pemuda yang datang lagi untuk melamarmu. Dia adalah putera Kiai Hasan dari pesanteran Ranca. Dia dulu juga santri di pesantren ini. Tapi keputusan ada di tanganmu, Neng. Sebab engkau sudah besar, sudah sangat berpendidikan."

Azwa sedikit terperanjat. Ia jadi penasaran siapa santri itu?



"Pernah nyantri di sini Mi?"

"Iya."

"Siapakah dia Ummi? Apa Neng mengenalnya?"

"Mungkin saja."

"Namanya siapa Ummi?"

"Nak Firman, Neng."

"Firman yang mana ya Mi?"

“Mungkin saja kamu tidak mengenalnya, Nenk. Pokoknya jangan sampai kau mempermalukan Ummi dah Abahmu”.

“Ummi tak perlu khwatir, hati Neng, sudah ada yang memiliki Ummi”

“Siapa,,bisa kau ceritakan lebih detail lagi pada Ummi?”

Dengan runtut Azwa menceritakan ketertarikannya pada malaikat kecil yang menjadi pahlawan baginya dari gangguan tangan-tangan jail masa kecilnya. Malaikat kecil itu selalu mengepakan sayapnya membawanya terbang kalo-kalo bahaya menderanya.
Beberapa hari setelah itu. Azwa belum juga mantap, siapakah gerangan yang akan ia pilih untuk mendampinginya. Tak ada petunjuk jiwa yang membentangkan jalan baginya. Saat ini imajinya menguraikan kembali sejarah cinta yang terkubur lama. Setitik rasa yang tertimbun waktu, kini telah hidup kembali. Api cinta kini telah nyala kembali, yang tak sempat padam meski telah terhempas angin, yang tak sempat mati walau hujan menderanya. Nafas cinta yang sempat terpenggal kini hidup kembali menghembus halus, lewat jari-jemarinya. Kini ia merasa hari-harinya menjadi pahit. Karena rindu kian menderu, menyala-nyala dalam hatinya. Imajinya masih mengukir keindahan malaikat kecilnya, keindahan yang sempat terlupakan. Kini menjelma menjadi nyala api yang siap menghanguskan jiwanya.



***

Kita tinggalkan Azwa dengan gejolak masa lalunya. Kini kita tengok kembali Daus yang mengidap penyakit yang hampir sama. Bayang-bayang tambatan hatinya bagaikan menari-nari di pelupuk matanya. Jiwanya hampa. Dia merasakan penyakit jiwanya makin lama makin menggrogoti separuh jiwanya. Hatinya yang telah di curi oleh sang putri anta branta, yang tak tau dari mana asalnya. Kini ia merasa hari-harinya menjadi aneh. Semua orang yang di kenalnya menjadi asing. Segala yang disukainya menjadi menjemukan. Tubuhnya gontai, di hempas rasa rindu yang tak berkesudahan. Kini ia bener-bener bingung yang tak menentu. Tak ada muaranya. Perasaan ingin memberontak pada Sang Ibu kian memuncak. Tapi tutur katanya masih saja meluluhkan hatinya. Hari berganti hari ia rasakan begitu cepat. Tak terasa hari penikahan yang telah di sepakatinya akan segera tiba. Daus berusaha menyembunyikan ekspresi kekecewaannya di hadapan Sang Ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatinya timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas Daus sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istrinya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata Sang Ibu yang amat dicintainya. 

Bebrapa hari sebelum hari pernikahan tiba, ia mencoba menumbuhkan cinta dan simpati pada calon isterinya. Tapi sia-sia belaka. Tak ayal bayangan sang puteri bagai genderang yang siap di tabuh dalam benaknya.

Hari pernikahan datang. Daus duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hatinya hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hatinya.



Merupaka kebiasaam masyarakat kami, dalam akad nikah pengantin perempun tidak diperkenankan mendampingi pengantin laki-laki selama akad belum syah. Ada yang aneh pada perayaan walimatul uruts kali ini. Pengantin perempuan menggunakan cadar yang menutupi wajahnya, sungguh ini kali pertama terjadi dalam kebiasaaan masyarakat kami pada umumnya. Cadar yang melingkar indah laksana benteng yang kokoh menututupi setiap pasang mata yang ingin menyinggahi aura kecantikannya.

Tapi meskipun begitu keindahan itu tetap memancar menembus batas tabir penghalangnya. Sesekali Daus mencoba merekahkan bibirnya menandakan kebagiaan atas pernikahannya. Tapi jauh di balik itu semu, imajinya melayang entah kemana menampik kenyataan dan akal sadarnya sendiri. Pestapun berlalu dan sampai pada muaranya. Anggur kebahagiaan telah selesai di peras. Kini saat yang dinanti semua orang telah tiba. Genderang telah di tabuh indah. Biola cinta telah berdawai, menyanyikan sair-sair indah tumpuan semua pasangan. Tapi tidak untuk keduanya. Bayangan pangeran kecil tak jua enyah dari tangkai hatinya Azwa. Seakan ia tak mengijinkan pernikahannya terjadi, dan tak menghalalkan dirinya untuk seorang Daus yang kini berada berapa senti meter dari tatapannya. 

Begitupun Daus, akalnya berbaring tak berdaya. Hatinya telah di bawa pergi, si pencuri yang kini memenuhi ruang hatinya. Seakan tak ada calah untuk memasukan Azwa dalam ruang hatinya. Di takdirakan sebagai manusia yang sedikit mengerti syari’at, Daus pun mencoba menunaikan kewajibannya dengan penuh kepura-puraan.

Malam itu, ketika angin kerinduan masih bertiup kencang. Bayang-bayang tambatan hatinya kini seolah menjelma menjadi nyata. Setelah shalat sunat dua raka’at perlahan Daus bangkiat dari duduknya. Saat pertemuan kini telah datang. Daus berjalan menuju singgasana pengantin yang menjadi tempat Azwa bersemayam. Daus memasuki singasana dengan hati tertinggal. Sedetik kemudian ia pun menghilang di balik pintu yang tertutup. Ia duduk di sofa yang berada di tengah ruangan. Ia sapukan pandangannya pada setiap sudut ruangan. Di setiap penjuru kamar ia hirup semarbak bau wewangian surgawi yang memikat. Lilin-lilin kecil yang memancarkan sinar warna-warni diletakan di beberapa sudut ruangan, kian indahnya. Cahaya yang terpancar indah menambah kesenduan dua hati yang terpenjara di ruang dan waktu yang berbeda.

Azwa tengah khudu dengan Al-qur’an yang di genggamnya. Bertemaram indah membelakangi Daus yang tengah memperhatikannya. Azwa berpura-pura tak mendengarkan suara yang datang. Suasana hening lama. 



Pada dasarnya hati manusia Allah ciptakan memilik kecenderungan pada setip keindahan. Begitu pula yang Daus rasakan saat ini. Lilin-lilin itu seolah bercerita penuh makna padanya.



Wahai pecinta janganlah kau menunggu lama

Segera petik mawar yang kini tengah merekah indah

Duhai perindu yang berselimut sendu

Bangkitlah, agar engkau dapat menyambut dan menerimanya

Duhai perindu yang selalu dahaga

Bangkitlah, karena perasan madu telah menanti tegukanmu

Sebab waktu yang di tunggu kini telah tiba

Fajar pagi kini telah menyingsing

Bangkitlah engkau dari tempat yang menjemukan itu

Bangkitlah engkau, karena kini telah tiba masanya



Dengan tenang, ia bangkit dari tempat duduknya. 

menghampiri sosok yang sejak tadi mematung indah dengan balutan busana yang menutup mukanya. Seakan-akan ia enggan membukanya. Jika di perhatikan lebih dekat ada percikan air di matanya. Daus melihat Azwa dengan uraian air mata membasahi pipinya. Rasa iba segera lahir di hatinya. Azwa duduk di balik temaram cahaya lilin yang indah. Daus mendekatinya. Ada getar halus menelusup di hatinya, seakan ada isyarat jiwa yang membuatnya tiba-tiba menyerahkan jiwa raganya pada lelaki yang telah memilikinya. Seraya memejamkan matanya. Daus perlahan membuka penutup wajahnya. Ada sihir mujarab yang mengajak tangannya bergerak.

“Anisa” Suara Daus girang.

Azwa kaget, Sesaat memori masa lalunya hidup kembali. Ia merasa mengenal panggilan manis itu. Panggilan yang hanya di ucapkan pangeran kecilnya. Ia serta-merta membuka matanya.

“Firdaus” jawabnya sontak.

Mereka berdua bertatap mata. Dua mata yang damai dan syahdu menyatu menjadi satu. Hati mereka seraya berpelukan dalam rindu yang lama terpendam. Api cinta yang dulu membakar mereka tanpa sia-sia, kini berubah menjadi madu dan anggur yang memabukan jiwa. Hanya lilin-lilin didalam kamarlah yang menjadi saksi antara pertemuan dua jiwa yang saling mencinta. Lilin-lilim itu seolah berucap tahniah atas pertemuan sepasang kekasih itu. Yang sebentar lagi akan meneguk anggur kebahagiaannya.

Selama tiga hari penuh kedua pegantin itu masih sibuk dengan kenikmatan dunianya. Mereka tidur dalam buaian mimpi indah, dan bangunpun dengan mimpi yang juga indah. Makanan mereka adalah madu kebersamaan, dan minumannya adalah segarnya anggur rerayuan.

Angin kebahagiaan bertiup sepoi-sepoi di luar sana, burung-nurung bersiul merdu di atas reranting pepohonan. Kupu-kupu beterbangan. Semua itu adalah perwujudan tasbih alam yang turut mendo’akan semoga kebahagiaan mereka di ridhoi Radd penggenggam cinta.

Bumi Allah, 22 Ramadhan 1431 H
Hamba Allah Yang Dha’if

-SELESAI-